Tanggal 8 Maret Hari di mana para perempuan punya momentum besar. Hari di mana para
perempuan, tak hanya di Indonesia, tapi tentunya perempuan sedunia,
memperingati keberhasilan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, politik dan
tentunya sosial.
Tapi
ironisnya, Hari Perempuan Internasional ini lahir dari sebuah tragedi
kekerasan. Gagasan soal feminisme sudah mulai terjadi di akhir abad 19 dan
titik nol dari Hari Perempuan Internasional ini lahir sebagai puncak gerakan para
perempuan di Kota New York, Amerika Serikat pada 8 Maret 1857
Saat itu para buruh wanita dari
pabrik garmen, melakukan unjuk rasa untuk memprotes kondisi buruk yang mereka
alami, mulai dari diskriminasi hingga tingkat gaji yang tak setara dengan buruh
laki-laki.
Sayangnya aksi demonstrasi itu tak
berjalan damai. Pasalnya aparat kepolisian bertindak represif dengan menyerang
para demonstran perempuan itu untuk membubarkan aksi.
Hari perempuan sempat “hilang” pada
masa 1910-20an. Tapi peringatan ini baru kembali dihidupkan, berbarengan dengan
bangkitnya feminisme pada era 60an. Baru di tahun 1974, PBB menyokong Hari
Perempuan Internasional yang ditetapkan pada 8 Maret.
Salah satu faktor yang mendorong
lahirnya Hari Perempuan Internasional ini juga berasal dari satu kejadian
mengenaskan yang pernah menimpa buruh perempuan, pada sebuah kebakaran besar.
Kejadian itu menewaskan – setidaknya 123 nyawa buruh perempuan.
Kebakaran di Pabrik Triangle
Shirtwaist pada 25 Maret 1911, menimbulkan 146 korban tewas dan 123 di antara
para pekerja wanita.
Peristiwa kebakaran itu hingga kini
masih tercatat sebagai kebakaran paling mematikan dalam sejarah kota New York.
Korban wanita tertua hingga sekarang tak terindentifikasi. Tapi dua pekerja
termuda, yakni Kate Leone dan Rosaria Maltese tercatat masih berusia 15 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar